Selasa, 10 Juli 2012



SASTRA POPULER
KEBUDAYAAN MASSA 
oleh:
ALBER



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Berbicara mengenai sastra ada tiga hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pertama, pihak seniman atau orang yang berkarya. Kedua, pihak yang membaca atau yang menikmati karya itu dan yang ketiga, pihak yang mempelajari atau meneliti karya tersebut. Kita dapat mengadakan penelitian ilmiah terhadap karya sastra, karena sastra seperti novel, cerpen dan puisi bukanlah semata-mata terdiri atas ilham pengarang atau bayangan semata-mata, tetapi juga merupakan hasil pemikiran dan kesadaran pengarang.
Rane Wellek dan Austin Warren serta Hudson dalam Hamidy menatakan bahwa sastra dari satu pihak mempuyai kebenaran atau ada memiliki semacam kebenaran. Dan dipihak lain sastra mampu memberikan interpretasi terhadap kehidupan. Dalam dua simpai itulah hubungan sastra dengan masyarakat cukup erat. Sastra mengemukakan kehidupan, menggambarkan ciri-ciri kemanusian, sehingga dengan jalan serupa itu sastra bisa memberikan nilai-nilai kebenaran yang berharga bagi kehidupan. Sastra merupakan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran (Teeuw, 1984:23). Pendapat tersebut didukung oleh Bustanul dalam bukunya “Sastra Indonesia”  mengatakan sastra merupakan huruf dan buku ( karangan-karangan). Pengertian tentang sastra sangat beragam, berbagai kalangan mendefinisikan pengertian tersebut menurut versi pemahaman mereka masing-masing.
Dalam lajur dunia karya sastra susah ditemukan, atau bahkan tidak ada satuan karya yang 100 persen memperlihatkan orisinalitasnya. Selalu saja ada persamaannya dengan karya-karya sebelumnya. Banyak aspek yang dapat digunakan untuk menilai orisinalitas karya sastra. Pertama dilihat dari salah satu unsurnya yang membangun karya sastra yang bersangkutan; tema, latar, tokoh, alur (novel), bait, larik, diksi, atau majas (puisi) atau tokoh, tema, latar, alur, bentuk dialog atau petunjuk pemanggungan (drama). Kedua, dilihat dari cara penyajiannya; bagaimana pengarang menyampaikan kisahnya (novel), citranya (puisi) atau dialog petunjuk pemanggungan (drama).
Kriteria kompleksitas berkaitan dengan beban yang disandang setiap unsur. Mengingat karya sastra tidak terlepas dari pesan/tema yang diusungnya, maka tidak jarang pula muncul tuntutan untuk melakukan penyelesaian atas tema bersangkutan. Dengan demikian, cara penyelesaiannya tidaklah gampang, tidak pula artifisial, dan muncul tidak sebatas yang tampak dipermukaan, jika penyelesaiannya dilaksanakan secara gampang, ia akan masuk kedalam apa yang disebut sebagai sastra populer.
Seperti bacaaan liar sastra populer ditandai pula oleh penggunaan ragam bahasa tertentu yang dianggap tak standar, yang “menyimpang” dari kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena ragam bahasa yang diguanakannya itulah, sastra populer dianggap sebagai sastra yang tidak bermutu dan tidak bermasa depan, sedangkan sastra serius sebaliknya.
Menurut ario bimo kesalahan yang sering ditemui adalah mengenai kecermatan membedakan antara bahasa lisan dengan bahasa tulis. Pengarang bahasa populer kadang kala kurang memahami seperti penempatan titik dan koma kalimat. Menurutnya pengabaian terhadap tata bahasa, malah akn menghilangkan unsur-unsur penting dalam novel, tokoh, alur, tema, peneceritaan dan latar.
Hampir semua sastra memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu terdapatnya majas (figuratif), image (citraan), Tamsil (perumpamaan), serta Metafora di dalamnya. Sebuah karya sastra pada umumnya bertemakan tentang kehidupan, percintaan, masalah sosial, kritik terhadap penguasa. Sastra banyak jenisnya, tetapi Dalam makalah ini akan dibahas secara singkat tentang sastra populer kebudayaan massa dari segi pengertian, definisi, dan hakikatnya, serta akan dilengkapi contoh serta analisisnya yang berupa penjelasan dari pengarang.

B.       Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1.        Definisi sastra populer kebudayaan massa
2.        Ciri-ciri sastra populer
3.        Contoh dan analisis sastra populer

C.      Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1.        Mengetahui definisi sastra populer kebudayaan
2.        Mengetahui ciri-ciri sastra populer
3.        Mengetahui contoh dan analisis sastra populer
D.      Manfaat
Manfaat penulisan makalh ini adalah antara lain intuk:
1.        Menambah perbendaharaan kajian-kajian tentang sastra secara khusus dalam                permasalahan sastra dan sebagai bahan kajian terhadap masalah sastra populer kebudayaan massa.
2.        Meningkatkan apreseasi sastra Indonesia bagi masyarakat, yaitu dalam hal mengkritik karya sastra, khususnya dalam kritik tentang sastra populer.












BAB II
PEMBAHASAN
A.      Definisi Sastra Populer
Sastra populer  merupakan karya sastra yang cenderung menggunakan bahasa sehari-hari dikalangan remaja, karya ini sering juga disebut karya pop (KBBI, 2005: 1002). Sedangkan Menurut  Laelasari (2006: 226) sastra populer merupakan perekam kehidupan yang  tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan, ia menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan harapan pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga akan merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalamanya dan bukan penafsiran tentang emosi itu, oleh karena itu sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengindentifikasikan dirinya.
 Kayam (1981:82)  mengatakan bahwa kata pop erat diasosiasikan dengan kata populer, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk selera populer yang kemudian dikenal sebagai bacaan popular. Jadilah istilah “pop” itu sebagai istilah baru dalam dunia sastra.
Dari definisi di atas penulis memunculkan postulat bahwa Sastra populer merupakan sastra yang cenderung menggunakan bahasa sehari-hari, tidak bersifat formal, menghibur, sesuai dengan selera pasar, dangkal, serta mudah dipahami. sastra populer ditandai pula oleh penggunaan ragam bahasa tertentu yang dianggap tak standar, yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena ragam bahasa yang digunakannya itulah, sastra populer dianggap sebagai sastra yang tidak bermutu dan tidak bermasa depan.

B.     Sastra Populer Kebudayaan Massa
Sastra populer adalah bentuk-bentuk sastra yang mempunyai akar pada kebutuhan, cara berpikir, pengetahuan, problematika dan selera orang-orang kebanyakan . Awalnya, kebudayaan populer atau kebudayaan pop  bersifat massal (umum), komersial, terbuka, dan lahir dari rakyat, dan tentunya disukai rakyat. Sehingga kebudayaan pop dikategorikan sebagai kebudayaan rakyat atau kebudayaan rendah. Bentuknya berupa musik, tarian, teater, gaya, ritual sosial, dan bentuk lain yang bersifat tradisional. Tumbuh pada tingkatan bawah sebagai perwujudan eksistensi dengan akses yang terbatas dan dicirikan dengan kesederhanaan. Oleh karena itu, kebudayaan pop dapat disimpulkan sebagai produk kultural yang berasal dari rakyat bawah.
Istilah budaya massa juga sering disamakan dengan istilah budaya Populer disebabkan kata populer juga menunjukkan pada pengertian rakyat kebanyakan dan standar estetik rendah.Misalnya, novel populer atau majalah populer, yang dianggap bermutu rendah   untuk membedakannya dengan novel atau majalah bermutu tinggi dan dalam. Budaya populer menunjuk pada budaya dengan standarata-rata dan selera orang biasa yang diproduksi secara massal untuk membedakannya dengan budaya elit atau kelas atas yang diproduksi secara khusus. Dalam hal ini kata populer biasanya dikaitkan dengan kelompok mayoritas yang dikendalikan oleh kelompok elit tertentu di dalam sebuah pola industri budaya.
Sastra populer memberi kekuatan pada orang kebanyakan untuk menghasilkan makna dan kesenangan berdasarkan hak, pilihan, preferensinya sendiri, sehingga membangun sebuah kekuatan sosial pembaca (social power) Sastra populer menjadi tempat menggugah `fantasi pembaca', yang mengambil berbagai bentuk, dan semuanya mewujudkan kekuasaan kelompok subordinat untuk mendesakkan kendali atas representasi. Melalui fantas-fantasi yang
mereka kembangkan dalam pembacaan. Kebudayaan populer banyak berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu, seperti pementasan mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan semacamnya.
Sastra dan budaya populer dibangun setidak-tidaknya oleh tiga prinsip. Pertama, imajinasi popular  yaitu imajinasi dan fantasi-fantasi bersifat murahan, picisan, banal, vulgar tentang cinta, nasib, gaya hidup, sebagai cara menarik perhatian massa populer. Kedua, komunikasi populer yaitu berbagai bentuk komunikasi bersifat dangkal, permukaan, menghibur ketimbang mencerahkan dan memberi wawasan pengetahuan. Ketiga simbol populer, yaitu simbol-simbol tentang kecantikan, kegagahan, kesuksesan, kebahagiaan bahkan kesalehan, yang ditampilkan pada tingkat permukaan.
Sebutan sastra populer atau  sastra pop sebenarnya sudah mulai bergema di tahun 70-an. Ketika, misalnya, novel Cintaku di Kampus Biru dan Karmila sukses di pasaran. Sebagaimana yang kita tahu, dua novel itu memang sengaja memberikan hiburan, maka otomatis yang terbayang adalah perdagangan. Sesuatu yang komersial. Jadi, karena tuntutan itu, maka sastra populer harus menampilkan masalah-masalah yang aktual, namun hanya sampai di tingkat yang permukaan. Karena jika terlalu mendalam, terlalu intens membahas problem kehidupan manusia, maka ia akan menjadi “sastra serius.” Begitu kening pembaca berkerut, terkesan berat di konsumsi umum, maka ia segera menjadi tidak populer. Nah, adik-adik, resikonya, “sastra populer” cepat ketinggalan zaman. Sebab ia ringan, bersifat artifisial, bersifat sementara. Maka akan segera digeser terus oleh kehadiran karya-karya yang lain, dengan gaya zaman yang berubah. Sastra populer, memang tidak mengejar capaian estetis, sebab targetnya adalah menghibur, menarik dengan tema masalah yang itu-itu saja, misalnya tema cinta-asmara. (Marhalim Zaini).

C.      Ciri-Ciri Sastra Populer
Dari  Pembahasan di atas tentang sastra populer penulis mengklasifikasikan ciri-ciri sastra populer, diantaranya adalah:
1.        Bahasa yang digunakan bahasa sehari-hari
2.        Bersifat menghibur
3.        Merupakan bacaan liar
4.        Bersifat komersial
5.        Bahasa yang digunakan bersifat dangkal
6.        Mudah dipahami
7.        Tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku
Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, penyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar. Sastra populer cepat ketinggalan zaman. Sebab ia ringan, bersifat artifisial, bersifat sementara. Seperti bacaan liar, sastra populer ditandai pula oleh penggunaan ragam bahasa tertentu yang dianggap tak standar, yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena ragam bahasa yang digunakannya itulah, sastra populer dianggap sebagai sastra yang tidak bermutu dan tidak bermasa depan, sedangkan sastra serius sebaliknya. Sastra populer era ini lebih menunjukkan muatan intelektual. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan novel Ayat-ayat Cinta yang banyak mengandung wawasan keagamaan yang tidak ringan. Atau novel-novel chicklit dan teenlit.
D.      Contoh dan Analisis
Analisis teks sastra kebanyakan menghubungkan tema karya sastra dengan wacana-wacana sebagai konteks yang ada dalam kehidupan dan juga estetika yang didasarkan pada kesenangan-kesenangan pembaca ketika mereka berhadapan dengan teks. Sehingga pembaca tertarik dengan karya tersebut. Dalam kasus karya sastra, studi  resepsi memungkinkan kita untuk dapat mengetahui bagaimana sebuah teks sastra diberi makna oleh pembacanya. Sastra, selama ini masuk dalam wilayah seni tinggi, yang sering dihadapkan secara berkebalikan dengan novel-novel populer. Dalam kebanyakan studi kebudayaan, keterkaitan antara teks dalam novel pop dengan pembaca memang menjadi tema yang menarik, mengingat novel-novel pop tersebut selama ini lekat dengan stigma hiburan, ringan dan memanipulasi emosi pembaca. Novel pop, sama halnya dengan film-film drama yang romantis. Dianggap menjadi salah satu hal yang membentuk impian perempuan terhadap kisah cinta yang romantis dan dramatis.
Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Laskar  Pelangi (Andrea Hirata), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih).
 Dalam studi resepsi terhadap karya-karya sastra, tampaknya semangat perlawanan dan negosiasi ini atas makna-makna kultural tidak muncul sebagai sesuatu yang ditonjolkan betul. Karena dianggap hasil kebudayaan yang lebih bermutu dan serius, sastra jenis ini dinilai lebih bisa mewakili realitas kehidupan masyarakat sekaligus menjadi refleksi sosial.
Nilai-nilai dominan yang direpresentasikan produsen, seperti pada studi atas budaya (termasuk di dalamnya sastra) pop, melainkan, menurut hemat saya, adalah bagaimana para pembaca memaknai peristiwa-peristiwa dan gagasan-gagasan yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra, dan apakah pada akhirnya terbuka ruang-ruang dialog antar para pembaca itu sendiri. Sehingga kritisme pembaca terhadap realitas sosial bisa mendapatkan ruang yang cukup memadai Sehingga konsumen pengunyah sastra menyukai sastra tersebut.
Sastra populer tak dapat dilepaskan dari kebudayaan populer karena ia lahir dari semangat kebudayaan populer. Sastra populer memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan apa yang dianggap sebagai sastra tinggi, seperti mengharamkan makna ganda, menghindari kerumitan dengan cara penyelesaian masalah dengan mudah, penokohan stereotipe dengan sistem bintang, dan sebagainya. Contoh karya sastra populer yang di analisis dalam makalah ini adalah Laskar Pelangi dan OVJ (Opera Van Java)

ANALISIS LASKAR PELANGI
Laskar Pelangi merupakan novel yang berlatar kehidupan masyarakat Melayu Belitong sekitar tahun 70-an. Sampai saat ini Laskar Pelangi terus dicetak ulang, bahkan disebut sebagai karya sastra terlaris sepanjang sejarah Indonesia. Buku ini juga menjadi perbincangan banyak orang karena mengangkat kisah yang jarang diangkat serta mampu menarik perhatian banyak orang.
Laskar Pelangi mengisahkan anak-anak Belitung yang masih memiliki impian, harapan, dan cinta. Sekolah mereka, SD Muhammadiyah, merupakan sekolah yang terancam bubar jika jumlah murid tahun ajaran baru tidak mencapai sepuluh orang. Kehadiran anak kesepuluh disambut suka cita oleh semua orang. Ini merupakan awal mencapai mimpi-mimpi mereka.
Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah:
  1. Ikal
  2. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
  3. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
  4. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi ahlan bin Zubair bin Awam
  5. A Kiong;Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
  6. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
  7. Kucai; Mukharam Kucai Khairani
  8. Borek aka Samson
  9. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
  10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan
Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Pada bagian-bagian akhir cerita, anggota Laskar Pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.
Laskar Pelangi adalah karya pertama dari Andrea Hirata. Buku ini segera menjadi Best Seller yang kini kita ketahui sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.
Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.
Laskar Pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini!
Suatu hal yang menarik dalam novel ini adalah dalam novel yang berjudul Laskar Pelangi ini penulis mengisahkan sebuah cerita tentang arti persahabatan, tidak hanya persahabatan saja yang diceritakan oleh penulis, tetapi juga berbagai pengalaman dan imajinasi yang menarik serta berbagai pengorbanan dan semangat seseorang yang selalu dihadang kesulitan untuk mencapai cita-citanya. Dan masih banyak lagi hal lain yang dialami sang tokoh. Dalam konteks ini kemiskinan merupakan masalah utamanya. Pada umumnya anak-anak yang tinggal di Belitong yang bersekolah di Muhammadiyah adalah anak-anak melayu yang miskin, namun walaupun demikian semangat dan kemauan mereka untuk bersekolah sangat tinggi. Mereka sangat bersyukur karena masih bisa diterima di sekolah Muhammadiyah, salah satu sekolah yang ada di pulau itu.
Rekaman sastra seperti noverl memberikan berbagai macam gambaran kehidupan masing-masing tokoh. Gambaran kehidupan berbeda-beda walaupun sebuah novel itu dikarang oleh pengarang yang sama. Hal itu tergantung pada alur cerita yang dibuat, karena dari alur cerita kita bisa mengambil kesimpulan yang akhirnya bisa menimbulkan berbagai persepsi dari pembaca.
Novel ini dimulai dengan menceritakan sekolah kampong yang paling miskin di Belitong. Sekolah tersebut merupakan sebuah sekolah yang sangat berarti bagi 11 anggota kelompok Laskar Pelangi dalam novel ini. Sekolah yang sederhana dan serba kekurangan ini memberikan kekuatan bagi kelompok Laskar Pelangi. Para guru di sekolah ini membawa kesan yang mendalam yang secara lansung tidak bisa dilupakan oleh kelompok siswa ini. Guru-guru yang mengajar mereka seperti Bu Mus dan Pak Harfan Efendi membuat mereka akan selalu mengingat jasa beliau, dengan pengorbanan dan semangat yang menggebu-gebu diberikan membuat mereka merasa lebih berani dan tertantang melakukan sesuatu hal yang baru. Sekolah dan jasa guru di sekolah ini membawa kenangan mais bagi mereka, yang pada akhirnya membawa AKU pernah menginjakkan kaki di Almamater Sarbone, sampai berjaya
Dapat dikatakan bahwa novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel populer Indonesia. Novel Laskar Pelangi banyak menginspirasi masyarakat terutama penulis muda yang ingin menyalurkan bakatnya. Novel ini banyak ditiru gaya dan temanya oleh penulis lain. Dengan lahirnya Laskar Pelangi, banyak masyarakat Indonesia terkena demam novel. Banyak orang yang tiba-tiba suka membaca novel dan karya sastra.
Salah satu ciri novel populer adalah penokohan stereotipe dengan sistem bintang. Dalam Laskar Pelangi, tokoh Ikal dan kawan-kawan yang tergabung dalam Laskar Pelangi merupakan tokoh yang selalu diidolakan. Yang menjadi bintang dalam Laskar Pelangi adalah Ikal dan Lintang. Ikal sebagai pencerita yang selalu menonjol dan mendapat porsi bercerita yang lebih.
Lintang adalah sosok yang jenius di antara teman-temannya dalam lingkungan masyarakat desa yang kekurangan. Dia adalah sosok pekerja keras. Hidup kekurangan, tetapi tak pernah mengeluh sekolah meskipun setiap hari harus menempuh jarak 80 km untuk sampai ke sekolah. Belum lagi jika musim hujan tiba dan hadangan buaya dalam perjalanan berangkat ke sekolah. Dengan keadaan seperti itu, ia tetap bertahan dan menjadi anak yang jenius. Ia putus sekolah karena harus menggantikan peran ayahnya yang meninggal dunia.
Novel Laskar Pelangi, memiliki pesan moral yang tersirat tentang kebersamaan, kepatuhan, keteguhan, dan segala aspek kehidupan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai korban ketamakan dari “yang berkuasa di suatu daerah.” Di sini juga diceritakan tentang perjuangan SD Muhammadiyah yang membawa generasinya ke arah yang Islami, diridhoi Allah SWT, terutama dalam hal pola pikir, akhlak, budi pekerti. Dengan semangat dan usaha yang kuat, segala apa yang ingin dicapai dapat terwujud.
Seperti novel populer lainnya, novel ini diakhiri dengan menghindari kerumitan dengan cara penyelesaian masalah yang mudah. Di akhir novel dikisahkan bahwa anggota Laskar Pelangi telah meraih impian mereka. Ada yang sudah sukses dengan pekerjaannya, ada yang menikah dengan teman sesama Laskar Pelangi, dan sebagainya. Di sinilah letak keinginan penulis untuk memanjakan selera pembaca. Pembaca biasanya menginginkan ending yang bahagia.
ANALISIS OPERA VAN JAVA
Opera Van Java (seterusnya ditulis OVJ) merupakan salah satu karya sastra populer yang banyak disenangi oleh kalangan remaja pada akhir-akhir ini karena mempunyai power menghibur (komedi) yang sangat tinggi, “Di sini gunung di sana gunung, wayangnya bingung dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa.” Itu adalah sepengggal kalimat handal yang selalu dilontarkan Parto sang dalang dalam OVJ. Sebuah komedi serial televisi yang hadir di Trans7 setiap pukul delapan malam. OVJ merupakan sebuah seni tradisi, wayang orang, yang dikemas dengan bentuk keseuaian zaman sehingga menjadi menarik untuk dtonton. Format yang ditampilkan dalam OVJ sangat bagus mengingat masyarakat saat ini mempunyai under estimated terhadap seni tradisi seperti wayang orang. Paradigma itu coba dhilangkan sekaligus berupaya melestarikan budaya jawa dengan format yang berbeda.
Dalam OVJ parto yang bertindak sebagai sang dalang menjadi penggerak pemainnya–sebagaimana peran dalang dalam wayang wong, seperti, Andre taulani, Sule, Azis Gagap, dan Nunung. Tak hanya itu, dalang pun ditemani oleh sinden yang selalu bernyanyi setiap sang pemain memulai  adegan dan di iringi oleh musik gemelan. Keunikan muncul ketika sebenarnya program yang di sadur dari wayang wong, yaitu dalangnya beserta wayang atau pemainnya dapat bertindak sesuka hati sesuai dengan keinginan dalang dan lepas dari keajegan formulasi wayang wong. Sebuah kombinasi yang menarik dengan menampilkan budaya jawa dengan balutan bercerita yang menarik.
Format atau tampilan yang berbeda terhadap sebuah seni tradisi sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Konsekuensi ini di ambil untuk memenuhi keinginan pasar yang mampunyai minat tinggi terhadap seni rakyat, tetapi tidak memiliki antusias tinggi untuk mengikuti jalannya acara seni tradisi. Sebelum OVJ kita pernah mendangar Ludruk Glamor, Ketoprak Humor, ataupun Srimulat. Hanya saja, OVJ menjadi sebuah penyajian yang istimewa karena ditempatkan pada kondisi lesunya acara hiburan  berbalut budaya atau seni rakyat.
Melihat fenomena yang terjadi pada OVJ juga di korelasikan dengan budaya kapitalis saat ini. OVJ sebenarnya adalah sebuah produk dari budaya popular yang merajalela di Indonesia. Terutama dengan budaya konsumerisme dan kapitalis yang telah mencengkeram Indonesia. Para pemiliki modal dan juga korbannya, konsumen, menjadi sebuah titik inti diciptakan sebuah bentuk kebudayaan. OVJ salah satunya masuk dalam katergor populer yang mau tidak mau pun berorientasi pada massa beserta alibi postifnya untuk melestarikan budaya tradisional.
OVJ dan Seni Populer
Menurut Umar kayam , dalam kebudayaan istilah pop dibedakan dengan populer. Secara etimologis, istilah populer dikaitkan dengan massa, yaitu masyarakat banyak. Istilah pop art berhubungan dengan masyarakat kecil atau masyarakat minoritas. Lain halnya dengan di Indonesia, perkembangan seni pop pada umumnya disamakan dengan seni populer. Selanjutnya makna populer yang berkaitan dengan OVJ di konsistensikan tanpa mendikotomi antara pop art yang bercorak minoritas serta eksperimental dan popular art yang bercorak mayoritas. Secara kasat mata, kepopuleran OVJ terletak pada bentuk eksperimental–selanjutnya disebut kiscth–penyajiannya dan juga berorintasi pada massa.
OVJ sebagai bentuk saduran dari wayang wong mencoba mempertahankan sesuatu yang ajeg dan juga memberi sentuhan baru yang inovatif. Kesesuaian yang ajeg merupakan bagian dari budaya populer karena sudut pandang sudah dikenalnya budaya ini. Kemudian bercampur dengan format baru tanpa menghilangkan esensi dari wayang wong. Wayang wong yang ditampilkan oleh OVJ merupakan bentuk kesenian kraton  yang sangat istimewa. Pencipta dari wayang ini adalah Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792) yang dalam pementasannya ceritanya di ambil dari wayang purwa dengan aktor manusia menggantikan wayang.
Dalam kebudayaan Indonesia, keberadaan pop art atau budaya tinggi dan populer atau budaya rendah telah dikenal dengan sebutan seni tradisi dan seni rakyat. Seni tradisi dan seni rakyat memang berbeda. Seni tradisi hidup di kota. Kesenian ini  merupakan kelanjutan dari kesenian yang hidup dan berkembang di sekitar keratin atau tempat kekuasaan. Sedangkan seni rakyat tumbuh di desa, di tengah masyarakat kecil yang dalam segala hal Nampak jelas perbedaan kepemilikan (Lindsay:1990). Selanjutnya kesenian tardisional dapat disebut juga dengan kesinian modern , yaitu sebagai bentuk seni yang penggrapannya di dasarkan atas cita rasa di kalangan masyarakat pendukung. Cita rasa ini biasanya berupa penemuan dan pembaruan. Pembaruan dan penemuan adalah ciri utama pop art sehingga dapat disamakan dengan seni tradisi.
Fenomena  pada OVJ merupakan hal lumrah yang sebenarnya sudah terjadi sejak lama. OVJ adalah perpaduan dari kesenian yang berbeda alam. Begitu halnya dengan kesenian Indonesia yang dapat hidup di dua lingkungan kebudayaan. OVJ sebagai bentuk sadur dari wayang wong merupakan bentuk kepemilikan masyarakat tertentu terhadap kesenian ini. Dalam konteks keindonesiaan, kepemilikan dan petumbuhannya pada masyarakat tertentu disebut juga kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah ini memiliki sejumlah ciri yang tak bisa hilang yang dapat disebut sebagai keajegan tradisi. Dalam OVJ penjagaan terhadap keajegan wayang wong  dengan memperhatikan unsur penting berupa adanya sang dalang, wayang, dan juga sinden.
Selanjutnya, keberadaaan kesenian yang berada pada dua alam ini disebabkan seni tardisi mengalami saduran. Penyaduran ini telah menempatkan seni tradisi untuk dibentuk kembali oleh kebutuhan suatu kebudayaan yang lebih luas dan tidak sekadar menganut cita rasa tardisi asalnya. Hal ini menyebabkan lahirnya sebuah seni baru, yaitu seni kitch. Seni tradisi yang pada mulanya dimiliki lingkungn keraton atau kerajaan, kini juga dapat dimiliki oleh masyarakat luas atau luar istana. Kepemilikannya pun tidak dapat dengan mudahnya menyebut seni tradisi sebagai milik semua orang. Dalam lingkungan keraton, wayang wong tentunya tetap mempertahankan bentuk yang ada tanpa memperhatikan perkembangan zaman.
Apa yang di alami oleh OVJ sebenarnya merupakan jawaban dari pertanyaan Edy Sediawati dalam bukunya Pertumbuhan Seni Pertunjukkan. Seni tradisi seperti wayang wong, telah mengalami pergeseran kepemilikan. OVJ sebagai sebuah bentuk pertunjukkan yang dapat disajikan di luar lingkungan kebudayaan aslinya maka para penonton akan cenderung untuk menghargai sebagai sesuatu yang disebut Edy Sediawati, yaitu sesuatu yang eksotis dan bukan hal yang biasa-biasa saja. OVJ telah menempatkan kepopulerannya di lingkungan Indonesia dengan menampilkan sesuatu yang baru, inovatif, dan kita pun menikmatinya.
Edy Sediawati memaparkan dua tuntutan dalam perkembangan atas seni tardisi yang kemudian menjadi populer ini. Pertama, para penggemar dari luar lingkungan tradisi tersebut menginginkan pemeliharaan atas gayanya yang khas, sedangkan penggemarnya dari dalam lingkungannya ada yang menginginkan tetap aman dalam gayanya yang telah terkenal secara akrab. Ada juga yang menginginkan perkembangan dalam arti perubahan atau tambahan sesuai dengan perubahan zaman (Sedyawati, 1981:39).
Itulah yang terjadi pada OVJ, kita mungkin sebagai penonton atau lingkungan luar dari tradisi wayang wong menginginkan adanya penjagaan atas gayanya yang khas. Bahkan, kita mungkin menginginkan yang lebih dengan pemberian inovasi pada formulasi pertunjukkan.
 Antara Seni Tradisi dan Seni Rakyat
Dalam perkembangannya, seperti yang telah disebutkan di awal, perpaduan dua budaya yang di alami oleh OVJ merupakan bentuk dari seni kitsch. Bentuk kesenian seperti ketoprak, wayang wong komersil OVJ , dan ludruk dianggap sebagai seni tradisional karena kelahirannya dan pertumbuhannya sebagai seni berada di lingkungan istana atau kota. Seni tradisi pun kemudian dapat disamakan dengan pop art menurut “barat” karena kepemilikannya yang minoritas. Selain itu, ketoprak dan wayang wong komersil OVJ dapat juga dikatakan sebagai seni rakyat atau seni populer karena kepemilikannya yang dimiliki oleh orang banyak.
Karakteristik sebuah seni yang lahir dan tumbuh di lingkungan kerajaan atau kota dan dapat dikonsumsi orang banyak oleh Umar Kayam dipakai sebagai kriteria untuk menggolongkan suatu kategori kesenian yang disebut kesenian Kitsch. Umar kayam menggunakan ‘Kitsch’ untuk menggolongkan bentuk-bentuk kesenian yang tidak dapat disebut kesenian istana dan juga bukan kesenian rakyat  dan ia tidak membuat pertimbangan nilai kepada kualitas bentuk-bentuk kesenian tersebut (dalam bahasa inggris sehari-hari, ‘kitsch’ berarti murah, norak). Ini menunjukkan pentingnya memahami bagaimana istilah ini dan istilah lainnya digunakan dalam konteks Indonesia dan kita harus berusaha sangat cermat untuk memahami kata-kata yang sudah diindonesiakan (Lindsya, 1990:46).
Legitimasi kitsch pada OVJ terletak dari formulasi penyaduran seni tardisional wayang wong dalam bentuk yang baru. Wayang wong yang aslinya hanya dapat dinikmati atau mungkin dimiliki kalangan kerajaan saja, berkat format baru dari OVJ menjadikan wayang wong dimiliki orang banyak. Bentuk penyaduran dalam OVJ tentunya dengan memperhatikan beberapa aspek dari cerita hingga aksesori pertunjukkan. Beberapa di antaranya penyaduran atau perubahan yang dilakukan OVJ pada seni wayang wong adalah waktu, bahasa, dan cerita.
Bahasa, sesuai dengan tempat kelahirannya, yaitu Yogyakarta; wayang wong menggunakan bahasa keratin atau bahasa Jawa. Berbeda dengan OVJ yang menggunakan bahasa keseharian. Mencoba untuk menyarkan akan pentingnya kepemilikan terhadap budaya tardisional dan juga bukti bahwa kebudayaan Indonesia adalah puncak kebudayaan daera maka bahasa Indonesia di pilih dalam pementasa OVJ. Bahkan, dalam pementasan tak jarang atau memang sebagai bahasa dialognya, yang digunakan adalah bahasa Jakarta atau bahasa percakapan.
Dapat dilihat contoh dari pantun Parto yang bertindak sebagai dalang, yaitu “Di sini gunung di sana gunung, wayangnya bingung dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa.” Pantun yang di ucapkan sang dalang dapat memperlihatkan pembahasaan dalam OVJ. Percakapan yang disampaikan tidak juga memiliki ajeg dalam keinovasian. Hal ini disebebkan karena titik utama dari komedi ini adalah improvisasi sang pemain atau wayang dengan bermain dalam lingkungan wayang wong. Tentunya, pembahasaan pada OVJ tidaklah begitu penting selama dapat memancing pemirsa merasa terhibur atau tertawa. Itulah yang dikatakan Parto, “yang penting bisa ketawa.”
Waktu, secara keseluruhan, wayang (kulit atau wong) dibagi menjadi tiga bagian atau pathet yang proporsinya dari penggambaran naratif, komplikasi, dialog dan gerakannya, kontras satu dengan yang lainnya. Lamanya waktu pementasan selama hampir delapan jam. Empat jam bagian pertama, yaitu pukul 09.00-01.00 merupakan pementasa bagian pertama pathet them. Bagian kedua, pathet sanga, biasanya berlangusng paling lama selamadua jam antara pukul 01.00-03.30. Kemudian bagian yang terakhir, pathet manyura, biasanya yang paling pendek berlangsung selama satu setengah jam antara 03.30-05.00. dapat disimpulkan kalau pementasan wayang wong berlangsung dari pukul 09.00-05.00 (Lindsay, 1990:121).
Dalam hal ini, waktu merupakan titik utama yang patut diperhatikan dalam menggarap kembali seni tradisional. Bahkan dikisahkan ketika diadakan pementasan wayang wong di Taman Ismail Marzuki pada decade awal tahu 1980-an, hanya orang-orang tua saja yang dapat bertahan menonton wayang wong dan beberapa mahasiswa FS UI. Masalah waktu memang titik poko dari penyaduran seni tardisi wayang wong ini.
OVJ yang merupakan saduran dari wayang wong mungkin tak bermaksud untuk memotong waktu pementasa denan alas an keajegan atau habisnya jalan cerita. Alasan utamanya tentu saja durasi waktu yang disediakan stasiun televise Trans7. OVJ yang disiarkan secara off air berlangusng antara pukul 20.00-21.00. Namun, durasi satu jam yang singkat itu di manfaatkan dengan mengefektifkan sebuah cerita. Bahkan, terkadang tak begitu penting isi ceritanya. Isi cerita hanya berguna sebagai pemantik kreativitas pemain dalam berperan. Durasi satu jam dengan cerita selesai dicoba untuk ditambah berupa intensitas siaran, yaitu dari hari senin sampai jumat.
Cerita, jelaslah sudah kalau dalam wayang wong, cerita yang sering ditampilkan adalah kisah Ramayana dan Mahabarata. Dalam OVJ dengan aksesorisnya yang berbau kerajaan, terutama untuk dalanganya yang selalu menggunakan pakaian daerah dan ditemani sindennya yang juga menggunakan kebaya Jawa. Cerita dalam OVJ tidak terpaku pada cerita kerajaan. Tak jarang memang cerita yang ditampilkan adalah cerita rakyat atau kerajaan. Namun, intensitas terbanyak adalah cerita modern atau mungkin karangan tim kreatif dari OVJ yang jauh dari tema-tema yang sudah dikenal.
Keterbatasan waktu yang hanya berdurasi satu jam, memang tak membuat OVJ begitu kaku. Cerita hanyalah pegangan untuk mendapat bahan lawakan saja. Bahkan, katika para pemain seperti Azis dan Sule sedang berdialog yang tidak sesuai dengan skeneario maka dalang Parto akan menghentikan cerita dan berteriak, “mana benang merahnya.” Oleh karena itu, OVJ mampu bertahan dengan komedi lain dan menjadi pilihan yang populer untuk ditonton pemirsa.
Dalam konteks Indonesia, makna populer dan pop art tidak lagi terpisahkan dan terkonsentrasi pada makna seni populer yang bermakna gabungan dari popular art dan pop art. OVJ merupakan seni gabungan dari seni tardisional (pop art) dan seni rakyat (popular art), yaitu seni kitsch. OVJ menggabungkan seni tardisional yang hanya dimiliki oleh keratn dan ditampilkan dengan saduran dalam beberapa aspek sehingga populer di masyarakat.













                                                        PENUTUP

A.      Simpulan
Perkembangan bentuk-bentuk sastra yang berbasis selera massa, produksi massa dan konsumsi massa telah menimbulkan berbagai kontradiksi menyangkut standar ukuran, metode penilaian , penerimaan dan otoritas dalam pengelolaan, penilaian dan penyaringan karya sastra. Muncul berbagai kontradiksi antara bakuan-bakuan penilaian sastra sebagaimana dikembangkan oleh lembaga-lembaga yang selama ini dianggap mempunyai otoritas penilaian (perguruan tinggi, dewan kesenian) dan model konsumsi, pembacaan (reading) dan pemaknaan yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri. Muncul kontradiksi untuk mengatakan mana sastra yang baik dan yang buruk atau populer tidak popeler.
Istilah budaya massa juga sering disamakan dengan istilah budaya populer disebabkan kata popular  juga menunjuk pada pengertian `rakyat kebanyakan’ dan standard estetik rendah. Misalnya, novel populer atau majalah populer, yang dianggap bermutu rendah, untuk membedakannya dengan novel atau majalah bermutu tinggi dan dalam. Budaya populer menunjuk pada budaya dengan standard rata-rata dan selera orang biasa yang diproduksi secara massal, untuk membedakan dengan budaya elit atau kelas atas, yang diproduksi secara khusus. Dalam hal ini , kata populer biasanya dikaitkan dengan mayoritas yang dikendalikan oleh kelompok elit tertentu di dalam sebuah pola industri budaya.
Sastra dan budaya populer dibangun setidak-tidaknya oleh tiga prinsip. Pertama, imajinasi popular  yaitu imajinasi dan fantasi-fantasi bersifat murahan, picisan, banal, vulgar tentang cinta, nasib, gaya hidup, sebagai cara menarik perhatian massa populer. Kedua, komunikasi populer yaitu berbagai bentuk komunikasi bersifat dangkal, permukaan, menghibur ketimbang mencerahkan dan memberi wawasan pengetahuan. Ketiga simbol populer, yaitu simbol-simbol tentang kecantikan, kegagahan, kesuksesan, kebahagiaan bahkan kesalehan, yang ditampilkan pada tingkat permukaan.








DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul. 1985. Sastra Indonesia. Jakarta: Lubuk Agung
Hamidi, UU. 1986. Tema Keadilan dam kebenaran Dalam karya Sastra Indonesia.Pekanbaru: Bumi Pustaka.
Laelasari dan Nurlailah. 2006. Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka jaya.
http://rara89.wordpress.com/2008/07/16/sastra-populer/
http://sarifulpenyair.blogspot.com/2009/06/totem-berdiri-di-antara-sastra-populer.html




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar